MANGGARAI TIMUR β Hampir sebulan berlalu sejak gempa berkekuatan 7,7 magnitudo mengguncang wilayah ini, Pemkab Manggarai Timur secara resmi memperpanjang status tanggap darurat untuk ketiga kalinya. Keputusan ini sekaligus menjadi pengakuan terbuka bahwa penanganan bencana belum tuntas dan penderitaan warga masih berlanjut hingga hari ini.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat gempa tersebut menyebabkan 179.037 orang mengungsi di seluruh wilayah, dengan 81.436 unit rumah mengalami kerusakan. Khusus di Kecamatan Lamba Leda Utara, dampak dirasakan sangat berat ratusan rumah warga rata dengan tanah, tempat ibadah dan bangunan sekolah ikut runtuh, sementara puluhan ribu jiwa masih berteduh di bawah terpal sederhana tanpa kepastian kapan dapat kembali membangun kehidupan.
Camat Lamba Leda Utara secara terbuka menyampaikan kendala yang dihadapi wilayahnya, di mana medan yang terjal, akses jalan yang rusak, serta pendataan yang belum selesai menyeluruh membuat penyaluran bantuan belum merata menjangkau kesebelas desa di wilayah kerjanya. Pernyataan ini juga sejalan dengan penjelasan dari Pemkab Manggarai Timur yang menyebutkan bahwa wilayah terpencil seperti Lamba Leda Utara termasuk yang paling sulit dijangkau dalam proses penanganan pascabencana.
Namun kenyataan di lapangan menyampaikan hal yang berbeda. Relawan dari berbagai daerah datang menembus jalan yang dikatakan tak terjangkau. Mereka naik kendaraan sederhana, berjalan kaki menanjak, bahu membahu membawa sembako, selimut, obat-obatan, hingga bahan bangunan ke desa-desa yang disebut terisolir. Mereka tidak menunggu jalan diperbaiki, tidak menunggu laporan selesai, tidak pula menunggu instruksi dari meja kerja yang nyaman. Yang mereka tahu hanya satu saudara kita butuh makan, butuh tempat berteduh, dan butuh tahu bahwa mereka tidak ditinggalkan.
Lantas apakah jalan terjal itu hanya terjal bagi pemerintah saja? Bukankah relawan yang bukan warga sini pun mampu melaluinya? Bukankah mereka yang tidak mengenal medan pun sanggup mencari jalan untuk sampai? Jika hati benar-benar ingin tiba, kerikil di jalan bukan penghalang. Jika niat sungguh hadir, lereng curam justru disatukan oleh semangat, bukan dijadikan tameng untuk tetap berdiam diri.
Kini warga melihat dengan mata kepala sendiri yang lebih dulu datang bukan seragam dinas, bukan kendaraan resmi, melainkan tangan-tangan sukarela dari orang-orang yang tidak menjanjikan apa-apa selain kepedulian. Mereka tidur di tempat sederhana, makan seadanya, namun tetap hadir lebih cepat daripada bantuan yang dijanjikan dari anggaran yang telah disalurkan.
Kami tidak bermaksud menuduh atau menghakimi. Kami hanya bertanya dengan lembut, apakah akses yang sulit itu benar-benar tidak bisa ditembus, atau justru kemauan yang belum cukup kuat untuk bergerak? Apakah pendataan yang belum selesai itu alasan yang tulus, atau sekadar cara agar warga tetap sabar menunggu tanpa kepastian yang jelas?
Status tanggap darurat sudah diperpanjang untuk ketiga kalinya. Semoga perpanjangan kali ini bukan sekadar perpanjangan waktu, melainkan perubahan sikap yang nyata. Agar nanti ketika ditanya warga, jawaban kita bukan lagi soal jalan yang sulit dilalui, melainkan tentang tangan yang akhirnya sampai.
Sunda Kecil News





Tinggalkan Balasan