Breaking News
15:31
Advertisement

📰 HUNTARA DIKLAIM TAHAN GEMPA, NAMUN KERANGKA BANGUNAN SUDAH ROBOH SEBELUM DITEMPATI

Screenshot 20260929 151153 Canva
Bagikan
Lihat Tersimpan

SATAR KAMPAS — Sunda Kecil News, Pembangunan hunian sementara atau HUNTARA bagi korban gempa Manggarai Timur kini menuai tanda tanya besar. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat telah membangun sebanyak 2.418 unit hunian dengan anggaran mencapai Rp82,2 miliar. Dari jumlah tersebut, Kecamatan Lamba Leda Utara menerima alokasi terbanyak, yaitu 714 unit yang disiapkan untuk warga yang kehilangan tempat tinggal akibat gempa berkekuatan 7,7 magnitudo pada 15 Agustus lalu.

Bangunan tersebut sebelumnya disampaikan sebagai bangunan yang dirancang tahan gempa dan layak huni, menjadi harapan bagi ribuan warga yang selama ini berteduh di bawah terpal di tengah cuaca yang kerap berubah dan udara yang mulai mendingin di dataran tinggi. Namun peristiwa pada Senin, 21 September 2026, mengubah harapan itu menjadi kekhawatiran mendalam. Saat terjadi gempa susulan berkekuatan 5,3 magnitudo, kerangka bangunan HUNTARA yang sedang dibangun di Dusun Ronting, Desa Satar Kampas, roboh ke tanah seketika.

Kejadian itu disaksikan langsung oleh warga di sekitar lokasi. Mereka menyatakan bangunan belum sempat dihuni, belum ada beban apa pun di dalamnya, namun sudah tidak mampu menahan guncangan yang terjadi. Warga pun mempertanyakan kualitas bahan, ketepatan spesifikasi, serta pengawasan yang seharusnya berjalan ketat di setiap tahap pengerjaan. Jika bangunan yang diklaim tahan gempa saja roboh sebelum selesai, apa jaminan keselamatan bagi warga yang akan menempatinya kelak, tanya salah satu warga yang meminta namanya tidak disebutkan.

Menanggapi keraguan yang meluas, pihak BNPB memberikan penjelasan bahwa bangunan yang roboh itu belum selesai dikerjakan secara keseluruhan. Dijelaskan pula fondasi belum disemen sempurna dan struktur bangunan belum dalam kondisi siap menerima beban. Namun penjelasan tersebut belum sepenuhnya meyakinkan masyarakat. Warga menilai seharusnya struktur bangunan, meskipun belum rampung, tetap memiliki kekokohan dasar agar tidak mudah rubuh hanya karena guncangan susulan. Keraguan warga tetap nyata, apalagi mereka yang akan menempati bangunan ini adalah orang-orang yang telah kehilangan rumah dan berhak mendapatkan tempat berlindung yang aman dan terjamin kualitasnya.

Hingga saat ini belum ada peninjauan ulang yang diumumkan secara terbuka terkait kualitas keseluruhan bangunan HUNTARA yang tersebar di berbagai desa, termasuk 714 unit yang berada di Kecamatan Lamba Leda Utara. Warga berharap pemerintah segera melakukan pemeriksaan menyeluruh, mempublikasikan hasilnya secara transparan, dan memperbaiki apa yang kurang tepat sebelum menempatkan keluarga-keluarga yang rentan ke dalam bangunan tersebut. Rakyat tidak meminta kemewahan, mereka hanya meminta tempat berteduh yang benar-benar aman.

Laporan: Tim Redaksi Sunda Kecil News
📢 Berita Terkini, Tanpa Penutup Mata

Penulis

SundaKecilNews

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *