Breaking News
12:49
Advertisement

📰 RATUSAN TRILIUN NILAI BUMI SUMBAWA, NAMUN RAKYATNYA TETAP BERDIRI DI LUAR PINTU

Screenshot 20260928 123304 Dola
Bagikan
Lihat Tersimpan

SUMBAWA — Sunda Kecil News, Proyek pertambangan Blok Elang yang direncanakan akan berjalan di tanah ini disebut-sebut sebagai investasi bernilai sangat besar. Badan dan lembaga terkait mencatat nilai proyek tersebut dapat mencapai Rp80 triliun dan diharapkan menyerap sekitar 20.000 tenaga kerja secara bertahap hingga tahun 2030. Angka yang begitu besar seharusnya membawa perubahan yang nyata bagi seluruh masyarakat Sumbawa, namun kenyataan yang dirasakan warga justru berjalan ke arah yang berbeda.

Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Posko Sumbawa menyampaikan temuan yang mengkhawatirkan terkait pengalihan lahan sebelum kegiatan dimulai. Tanah ulayat yang diwariskan turun-temurun dari leluhur banyak diambil alih dengan harga yang jauh di bawah nilai sebenarnya. Warga yang menjaga tanah ini seumur hidup justru menjadi pihak yang paling lemah dalam perundingan, sehingga ganti rugi yang diterima tidak sebanding dengan kehilangan yang mereka tanggung.

Di Kecamatan Lantung, praktik yang diduga sebagai penguasaan lahan secara sepihak juga terlihat nyata. Warga menyewakan tanah mereka seharga Rp200 juta per hektare, namun tanah yang sama kemudian ditawarkan kembali kepada pihak investor dengan harga mencapai Rp5 miliar per hektare. Selisih sebesar Rp4,8 miliar per hektare itu dinikmati oleh segelintir pihak yang bertindak sebagai perantara, sementara pemilik asli tanah tidak mengetahui keuntungan yang berlipat ganda tersebut.

Pertanyaan yang kemudian muncul adalah mengapa warga tidak diberi kesempatan mengetahui nilai sebenarnya dari tanah mereka sendiri? Mengapa yang datang lebih dulu bukan pemberitahuan yang jujur, melainkan tawaran yang memanfaatkan ketidaktahuan mereka? Jika sejak awal lahan saja sudah dimainkan seperti ini, maka yang akan datang nanti tentu tidak akan berpihak kepada rakyat kecil.

Kekhawatiran warga semakin nyata dengan kejadian yang menimpa peternak di wilayah Lunyuk. Sebanyak 17 ekor sapi milik warga ditemukan meninggal dunia, yang diduga kuat berkaitan dengan perubahan kualitas air di sungai yang dilintasi kegiatan pertambangan. Hingga hari ini, belum ada hasil penyelidikan resmi yang dipublikasikan secara terbuka kepada masyarakat. Warga yang kehilangan ternak sumber penghidupan mereka belum mendapatkan jawaban yang jelas dari pihak berwenang maupun perusahaan terkait.

Para pekerja dari warga lokal pun diketahui mayoritas hanya menempati posisi-posisi paling bawah. Padahal tanah tempat tambang berdiri adalah tanah mereka, air yang mengalir di sungai adalah air yang mereka minum, dan udara yang terhirup adalah udara yang mereka embuskan setiap hari. Namun ketika keuntungan dibagikan, mereka seolah hanya menjadi penonton di tanah kelahiran sendiri.

Investasi yang besar tidak boleh berarti penderitaan yang besar pula bagi rakyatnya. Blok Elang bukan milik sebagian orang yang datang mengambil lalu pergi, melainkan milik seluruh generasi yang lahir dan tumbuh di pulau ini. Sudah saatnya nilai yang adil dikembalikan kepada pemilik aslinya, dan setiap kerugian yang terjadi ditangani secara jujur serta transparan. Jangan biarkan Sumbawa kaya di atas kertas, namun rakyatnya tetap miskin di tanah sendiri.

Sumber: AMAN Sumbawa, keluhan warga Lantung, warga Lunyuk
Laporan: Tim Redaksi Sunda Kecil News
✊ Suara dari Tanah yang Tak Boleh Dilupakan

Penulis

SundaKecilNews

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *